Seminar Islamic Entrepreneurship Kampus UB Kediri : “Usaha Itu Harus Memenuhi Syarat Halalan Thayyiban”

Management Entrepreneur Days 2019 Gali Jiwa Entrepreneur Dalam Diri Mahasiwa
1 Mei 2019
Pengumuman “ bank indonesia akan memberikan bantuan penlitian bagi mahasiswa S1/S2/S3 FEB UB”
2 Mei 2019

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada Kamis, 2 Mei 2019, mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) mengadakan Seminar Islamic Entrepreneurship dengan tema “Membangun Usaha yang Islam Berkah Sukses Dunia Akhirat” bertempat di Universitas Brawijaya Kampus Kediri.

“Pemimpin didunia akan dipegang oleh pengusaha”, jelas Prof Ubud Salim, narasumber yang juga instruktur kewirausahaan islam. Dipaparkan oleh Guru Besar Jurusan Manajemen FEB UB ini bahwa dalam ajaran agama Islam, seorang pengusaha harus berlandas pada prinsip Halalan Thayyiban yaitu halal dan baik agar usaha menjadi berkah.

Ditambahkan, sejarah menyebutkan perbedaan latarbelakang pemimpin dunia dari massa ke massa yaitu diawali sekitar tahun 1940-1960 dipimpin oleh mayoritas kalangan intelektual, 1970-1980 an oleh angkatan bersenjata, 2000-2020 an oleh aktivis (organisasi massa/politik) dan diperkirakan setelah tahun 2020 dunia ini akan dipimpin oleh para pengusaha/entrepreneur.

Menurut data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), populasi umat islam yaitu 1:4 dari populasi penduduk dunia. Jumlah yang sangat besar dan potensial menjadi pemimpin dunia di massa mendatang bila menjalankan hadis (9 dari 10 pintu rejeki adalah dengan berdagang/pengusaha) tentang keutamaan menjadi pegadang (pengusaha). Lebih lanjut, Prof Ubud mengatakan bahwa seorang pengusaha sangat dekat dengan dosa besar bila tidak memegang prinsip Halalan Thayyiban. Salah satu dosa besar yang dianggap setara dengan dosa ketika melalaikan sholat yaitu mengurangi timbangan dalam berdagang. Praktik-praktik kecurangan ini harus dihindari karena memiliki konsekuensi yang sangat besar. Pengusaha juga harus mampu bertindak tegas dan berusaha menghindar bila menemui sesuatu yang meragukan (syubhat) dalam berdagang.

Jiwa berwirausaha tidak terbatas pada bidang pekerjaan tertentu atau hanya kepada mereka yang berprofesi sebagai wiraswasta. Menurut Prof Ubud, seorang pegawai juga dapat dikatakan memiliki karakteristik seorang entrepreneur bila ia seorang pemimpi dan mampu bertanggung jawab untuk mengkreasikan inovasi, menjadi pemikir atau penggagas suatu ide untuk diwujudkan dan menguntungkan sekelilingnya terutama organisasi tempatnya bekerja.

Dihadapan para mahasiswa Jurusan Manajemen FEB UB Kampus Kediri, Prof Ubud menyampaikan semangat kepada para mahasiswa untuk menjadi seorang pengusaha yang menjalankan usahanya secara halal dan baik (Halalan Thayibban). Hal ini didasari pada “demam pengusaha” yang dialami oleh Negara-negara di dunia khususnya Indonesia dimana pemuda Indonesia banyak unjuk kebolehan dan mencoba peruntungannya dalam berdagang. Globalisasi dan kemajuan teknologi semakin membuka peluang sekaligu menambah ketat persaingan usaha, namun dengan selalu berpegang pada ajaran agama maka pengusaha muda Indonesia akan terhindar dari hal yang dilarang agama, khususnya dosa besar.